PADANG — Sebanyak 161 atlet yang masuk dalam program Pelatihan Provinsi (Pelatprov) Sumatera Barat menjalani tes fisik tahap kedua. Evaluasi ini menjadi bagian dari persiapan KONI Sumbar menghadapi rangkaian kompetisi hingga Pekan Olahraga Nasional (PON) NTB-NTT 2028.
Tes fisik tersebut dibuka Ketua Umum KONI Sumbar Hamdanus. Para peserta merupakan atlet andalan prioritas dan atlet potensial yang diproyeksikan menjadi kekuatan Sumatera Barat pada berbagai ajang olahraga mendatang.
Hamdanus menegaskan, status sebagai atlet Pelatprov bukan jaminan untuk bertahan tanpa batas. Setiap atlet akan dinilai berdasarkan perkembangan performanya.
Menurut dia, sistem pembinaan harus memberikan ruang bagi atlet yang menunjukkan kemajuan sekaligus membuka peluang bagi atlet lain yang dinilai lebih potensial.
“Tidak ada yang seumur hidup dalam Pelatprov. Ada promosi dan evaluasi. Atlet yang menunjukkan kemajuan akan dipertahankan, sedangkan yang tidak berkembang tentu bisa terdegradasi,” kata Hamdanus.
Ia menambahkan, KONI Sumbar tidak bekerja sendiri dalam membangun prestasi olahraga. Dukungan Dispora Sumbar serta perhatian dari pengurus besar cabang olahraga menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pembinaan atlet.
Hamdanus juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, termasuk tim anggaran provinsi yang terus memperjuangkan kebutuhan anggaran untuk pembinaan atlet.
Menurutnya, perjuangan atlet Sumbar tidak boleh berhenti pada keberhasilan di tingkat daerah. Sejumlah agenda telah menanti, mulai dari Porprov, PON Beladiri, babak kualifikasi PON hingga PON 2028. Sumbar juga akan menjadi tuan rumah Porwil 2026.
“Cita-cita kita adalah medali emas. Masa depan kita tergantung pada perjuangan kita. Karena itu, seluruh proses pembinaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala UPTD KBOR Dispora Sumbar Erdison yang hadir mewakili Kepala Dispora Sumbar memberikan apresiasi atas pelaksanaan tes fisik tersebut.
Ia menilai evaluasi berkala diperlukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kemampuan atlet setelah menjalani program latihan selama beberapa bulan.
“Yang penting adalah bagaimana hasil tes ini menjadi bahan evaluasi. Idealnya ada peningkatan sehingga bisa menjadi dasar untuk menentukan langkah persiapan berikutnya,” ujar Erdison.
Erdison juga meminta agar sinergi antara KONI, Dispora, atlet dan pelatih terus diperkuat. Menurutnya, pembinaan yang terintegrasi akan memperbesar peluang Sumbar meloloskan lebih banyak atlet ke PON.
Khusus bagi atlet yang tampil di Porprov, ia mengingatkan agar prestasi di tingkat provinsi tidak membuat atlet cepat berpuas diri.
“Jangan terlena dengan hasil Porprov. Atlet Porprov harus dipersiapkan untuk menghadapi BK PON. Semakin banyak yang lolos ke PON, semakin besar pula peluang kita mendapatkan medali,” katanya.
Ketua Pelatprov KONI Sumbar, Dr. Risky Syahputra, menjelaskan tes fisik kedua memiliki fungsi penting karena hasilnya akan dibandingkan dengan pengukuran tahap pertama.
Perbandingan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi fisik atlet setelah enam bulan mengikuti program Pelatprov. Data itu selanjutnya menjadi dasar untuk mengevaluasi efektivitas latihan dan menyusun program pembinaan berikutnya.
“Tes fisik berkala dengan data yang akurat merupakan fondasi penting untuk membangun performa puncak atlet atau peak performance menjelang pertandingan,” ujar Risky.
Ia berharap hasil evaluasi mampu memberikan gambaran objektif mengenai perkembangan masing-masing atlet. Dengan begitu, pelatih dapat melakukan penyesuaian program latihan sesuai kebutuhan dan kondisi atlet.
Tes fisik tahap kedua ini sekaligus menegaskan bahwa perjalanan menuju PON 2028 membutuhkan proses panjang. Hanya atlet yang mampu menjaga konsistensi, meningkatkan kemampuan dan menunjukkan performa terbaik yang akan memiliki peluang besar menjadi bagian dari skuad Sumatera Barat menuju ajang nasional tersebut. (*)





